Pariwisata Terpukul, Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Masih Minus

YOGYA, KRJOGJA.com – Pertumbuhan ekonomi di Kota Yogya sampai akhir tahun ini diprediksi masih minus. Hal ini karena selama masa pandemi virus Korona, sektor pariwisata sebagai lokomotif ekonomi di Kota Yogya merupakan sektor yang paling terpukul. Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi, menilai pada kondisi seperti ini pihaknya harus mengedepankan aspek kehati-hatian.

“Kita ini bertumpu paling banyak hotel dan restoran. Kondisi seperti ini mau tidak mau harus berhati-hati,” tandasnya, Minggu (5/7/2020).

Prediksi pertumbuhan ekonomi yang minus juga terjadi secara nasional. Pertumbuhan yang negatif itu menunjukkan ekonomi belum bangkit atau tidak lebih baik dari tahun lalu. Meski demikian dari sisi pemerintahan kemampuan anggaran masih cukup bagus kendati tidak maksimal. Masih banyak kegiatan yang ditunda dan dilanjutkan tahun depan.

Heroe menjelaskan, begitu ekonomi terhenti maka pertumbuhannya berjalan lambat. Akibatnya kegiatan usaha maupun transaksi ikut turun. Hal itu pun dapat berdampak pada peningkatan angka pengangguran dan kemiskinan. “Makanya perlu ada dorongan agar ekonomi bisa beranjak bangkit. Tetapi protokol Covid-19 harus tetap dikedepankan,” jelasnya.

Salah satu upaya yang akan digulirkan Pemkot ialah konsep ‘Dari Jogja Untuk Jogja’. Sejumlah destinasi wisata akan dibuka namun prioritas untuk warga kota terlebih dahulu. Perhotelan yang sebelumnya tutup, saat ini sebagian besar sudah mulai buka. Untuk mendorong tingkat kunjungan dan transaksi, program promosi kerja sama Pemkot serta dunia usaha juga akan digulirkan. “Juli dan Agustus kami targetkan ‘Dari Jogja Untuk Jogja’ sudah bisa bergulir,” katanya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogya Agus Tri Haryono, sebelumnya mengungkapkan pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun diprediksi minus 2,2 persen. Kondisi itu merupakan angka pesimis karena pandemi belum dipastikan kapan bisa berakhir. Sedangkan perkiraan dari sisi moderat mampu tumbuh 0,35 persen, dan perkiraan optimis jika ekonomi bisa merangkak naik pertumbuhannya mencapai 2,07 persen.

Agus pun menilai, dengan kondisi seperti ini maka untuk bisa menyamai pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu masih cukup sulit. Apalagi dari 17 parameter Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang paling tinggi ialah akomodasi dan makan minum. “Kedua parameter itu di dalamnya kan pariwisata yang menjadi penopang tinggi ekonomi kita,” terangnya.(Dhi)

Sumber : KR Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *