Benarkah Vaksin Bisa Pulihkan Ekonomi dari Corona?

Jakarta – Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat (AS) telah meminta negara bagian untuk mendistribusikan vaksin virus Corona pada akhir Oktober. Pfizer (PFE) menilai Badan Pengawas Obat dan Makanan AS memiliki cukup data untuk mengesahkan vaksin pada bulan depan.

Vaksin sendiri dinilai efektif atau sebagai peluru ajaib yang bisa membuat ekonomi global kembali bergerak dengan cepat. Namun, ada beberapa alasan yang menyebut pemulihan ekonomi akan berjalan lambat, seperti vaksin tidak 100% efektif dan jumlahnya terbatas. Distribusinya bisa menjadi masalah baik antarnegara maupun di dalam negara itu sendiri.

Kepala ekonom di Capital Economics, Neil Shearing merilis beberapa catatan dari hasil penelitiannya, bahwa ada berbagai hasil potensial bagi perekonomian setelah vaksin disertifikasi. Menurut dia salah jika berasumsi vaksin akan mengubah prospek ekonomi di tahun depan.

“Di satu spektrum terletak vaksin yang efektif, yang diproduksi dan didistribusikan dengan cepat. Di sisi lain terdapat vaksin yang kurang efektif karena menghadapi tantangan produksi dan distribusi yang signifikan dan akan relatif kekurangan pasokan pada tahun 2021,” katanya seperti dikutip dari CNN, Senin (7/9/2020).

“Dalam bagian skenario besar, langkah-langkah menahan penyebaran, termasuk menjaga jarak dan pembatasan beberapa perjalanan ke luar negeri akan tetap berlaku di masa mendatang,” tambahnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan lebih memilih vaksin yang efektivitasnya 70% dari ambang minimum yang ditetapkan sebesar 50%. Itu berarti setiap orang yang divaksin masih berisiko terinfeksi lagi. Oleh karena, vaksin menjadi tantangan pertama.

Masalah selanjutnya adalah pasokan dari vaksin itu sendiri, menurut Shearing setidaknya pengembang harus menyediakan 1 miliar dosis untuk tahun ini, dan 7 miliar dosis pada tahun 2021. Angka-angka itu masih asumsi yang berpotensi akan menurun usai mendapat persetujuan. Pasalnya dibutuhkan jarum dan alat suntik khusus dalam memberikan vaksin dan beberapa negara termasuk AS tidak cukup persediaannya.

“Dari perspektif ekonomi global, masalahnya tidak sesederhana ada atau tidaknya vaksin,” kata Shearing.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *