Neraca Dagang Periode Agustus Diramal Masih Surplus

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini akan mengumumkan perkembangan ekspor dan impor Indonesia periode Agustus 2020.

Kalangan ekonom memproyeksi masih terjadi surplus pada neraca perdagangan bulan Agustus ini.

Ekonom PT Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan neraca perdagangan diperkirakan tercatat surplus U$2,24miliar dari bulan sebelumnya yang tercatat surplus U$3,26miliar.

Dia menyebutkan kinerja ekspor pada bulan Agustus diperkirakan -9,9%yoy sementara laju impor diperkirakan masih mengalami kontraksi sebesar -32,55%yoy.

Kinerja perdagangan Indonesia pada bulan lalu yang tetap surplus masih dipengaruhi oleh kinerja ekspor yang cenderung didukung oleh perbaikan aktivitas perekonomian global sementara kinerja impor masih tertahan oleh lemahnya investasi dan konsumsi domestik.

“Kinerja ekspor ditopang oleh aktivitas manufaktur dari mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok, Jepang dan AS, seiring dengan kenaikan PMI ketiganya ke angka 53,1, 45,2, dan 53,1,” kata Josua, Selasa (15/9/2020).

Sementara harga komoditas ekspor juga cenderung mengalami kenaikan, seperti CPO yang secara bulanan naik 10,03%, dan karet, yang mengalami kenaikan harga hingga 22,63% di bulan Agustus.

“Terjadinya penurunan surplus diakibatkan oleh adanya kenaikan harga minyak dunia sebesar 5,81%. Selain itu, kinerja aktivitas manufaktur domestik yang meningkat diperkirakan juga akan mendorong peningkatan bulanan kinerja impor non migas meskipun masih terbatas,” ujarnya.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah memproyeksi neraca perdagangan diprakirakan masih surplus sebesar US$ 2 miliar. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan ekspor yang meningkat didorong oleh permintaan negara tujuan ekspor seperti China dan ASEAN dan juga pada produk-produk ekspor utama (kendaraan bermotor, pakaian, CPO).

“Kenaikan harga komoditas terutama CPO di Agustus dibandingkan pada bulan Juli lalu. namun harga batu bara masih mengalami kecenderungan turun di bulan Agustus,” ujarnya.

Selain itu impor tumbuh didorong oleh aktivitas manufaktur dalam negeri akibat meningkatnya demand domestik (dilihat dari PMI Agustus naik menjadi 51,9 dari Juli sebesar 50,5)

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *