Resesi Mulai Bulan Ini, Apa yang Perlu Dilakukan?

Jakarta – Kementerian Keuangan memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali minus di kuartal III-2020. Angkanya berada di kisaran minus 2,9% sampai minus 1%. Dengan begitu, Indonesia mengalami resesi.

Sebab, realisasi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II tahun ini minus 5,32%. Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal berturut-turut.

Namun demikian masyarakat dinilai tidak perlu panik menyikapi ekonomi Indonesia bakal masuk resesi bulan ini. Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami resesi, banyak negara mulai dari yang maju maupun berkembang sudah terlebih dahulu masuk jurang resesi.

“Saya kira yang perlu diperhatikan masyarakat, bahwa resesi juga dialami oleh negara lain dan masyarakat tidak perlu panik,” kata Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi detikcom, Jakarta, Rabu (30/9/2020).

Yusuf mengatakan, saat ini masyarakat hanya perlu menyiapkan dana darurat yang bisa digunakan saat Indonesia benar-benar resesi. Sebab, menurut para ekonom, kondisi tersebut akan berdampak pada pelemahan daya beli hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bahkan dampak dari resesi ini akan membuat PHK yang sudah terjadi sejak awal pandemi COVID-19 terus berlanjut. Pegawai yang saat ini statusnya dirumahkan dan kena pemotongan gaji pun bisa bernasib lebih buruk.

Sementara itu, Staf Khusus Menko Perekonomian Reza Yamora Siregar mengatakan pemerintah terus berupaya menekan pelemahan ekonomi melalui percepatan penyerapan anggaran program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Menurut dia, percepatan penyerapan ini akan berdampak pada realisasi pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal III-2020. Di dalam program PEN, dikatakan Reza, terdapat program-program yang langsung menyentuh masyarakat khususnya yang terdampak COVID-19.

“Kita monitor ini secara teratur mingguan dan dikoordinasikan di bawah komite penanggulangan COVID-19 dan PEN,” kata Reza.

Selain itu, fokus pemerintah menangani permasalahan di sektor kesehatan pun dengan meningkatkan sosialisasi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan atau 3M. Selain itu, meningkatkan testing, tracing, dan treatment atau 3T.

“Jadi PEN yang lebih efektif. Program melawan COVID yang makin diperkuat akan mendorong pemulihan kepercayaan pada sisi konsumen yang akan mendorong sisi produksi dan investasi. Inilah makanya kami optimis dengan pemulihan ekonomi kita,” ungkapnya.

Meski kuartal III berakhir pada akhir September, namun pengumuman realisasi pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) Indonesia baru dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 5 November 2020.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *