Haruskah Masker Kain Ikuti SNI?

Jakarta – Produsen maker kain yang ada saat ini akan diminta untuk mengikuti standar nasional Indonesia (SNI). Badan Standarisasi Nasional (BSN) menetapkan aturan terkait bahan yang digunakan untuk pembuatan masker.

Hal ini dilakukan agar masker kain menjadi lebih aman dan bisa melindungi penggunanya. Ada tiga tipe kain yang bisa digunakan untuk bahan masker. BSN menyebut pekan ini akan diumumkan ke publik terkait penetapan SNI pada masker.

Kepala Bidang Akreditasi Laboratorium Kalibrasi Badan Standarisasi Nasional (BSN) Donny Purnomo menjelaskan sebenarnya tidak ada aturan untuk mewajibkan masker untuk mendaftar SNI. Dia menyebutkan BSN akan menerbitkan panduan bagi pelaku usaha kecil, bagaimana untuk memproduksi masker kain yang baik.

“Itu nanti ada pilihan seperti apa sih yang baik, misalnya luarnya batik nanti dalamnya harus bahan yang lain. Itu akan dilakukan ujicoba dulu,” kata dia saat dihubungi detikcom, Senin (5/110/2020).

Dia mengungkapkan masker-masker kain yang masih beredar di pasaran saat ini masih tetap bisa dijual dan tidak akan ditarik dari peredaran.

“Kita memang akan sosialisasikan dulu ke pelaku usaha lalu ke pengguna. Kalau sekarang masih ada di pasaran ya sudah. Kan lebih baik pakai masker daripada nggak pakai,” ujar dia.

Menurut dia, saat ini memang industri masker kain sedang berkembang dan BSN juga berupaya untuk tetap menjaga perkembangan tersebut serta tidak mematikan perekonomian.

“Penetapan ini nanti akan jadi acuan, masker yang baik bahannya seperti ini,” jelas dia.

Dalam aturan SNI 8914:2020 masker kain ada tipe A untuk penggunaan umum, tipe B untuk filtrasi bakteri, tipe C untuk penggunaan filtrasi partikel.
Untuk tipe A daya tembus udara dan daya serap kurang lebih dari 60 detik untuk seluruh tipe masker kain dan kadar formaldehida bebas hingga 75mg/kg untuk semua tipe.

Selain itu, ditetapkan kadar logam terekstraksi maksimum, ketahanan terhadap pembahasan permukaan minimum melalui uji siram, kadar PFOS, dan PFOA pada masker kain yang menggunakan anti air, hingga nilai aktivitas antibakteri minimum pada masker kain yang memakai antibakteri.

Filtrasi pada masker kain berdasarkan penelitian antara 0,7-60%, di mana semakin banyak lapisan maka semakin tinggi efisiensi filtrasinya.

Donny mengungkapkan SNI yang ditetapkan bertujuan untuk acuan bagi para pembuat masker, pembeli hingga pemangku kepentingan. Dia menyebutkan dengan SNI ini nantinya BSN akan melakukan sosialisasi untuk bahan pembuatan masker.

“Nantinya akan diinformasikan tentang tata cara, pemilihan bahan kepada pelaku usaha tentunya tentang pembuatan masker kain yang baik,” kata Donny saat dihubungi detikcom, Senin (5/10/2020).

Donny menjelaskan minggu ini pihak BSN akan mengumumkan bahan seperti apa yang cocok untuk membuat masker kain. Dia menyebutkan saat ini industri masker rumahan juga sedang berkembang. “Sekarang kegiatan ekonomi dari masker ini juga sedang berkembang, jadi supaya tidak terganggu. Kami sosialisasikan dulu,” jelas dia.

Pemilihan kain menjadi sangat penting misalnya kain yang pewarnanya tidak mengandung logam berat terlalu tinggi. Serta sosialisasi kain batik yang cocok untuk masker. Donny mengungkapkan nantinya BSN akan menggunakan platform online mulai dari Facebook sampai Instagram untuk sosialisasi ini.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *