Jurus Biar Bank Syariah BUMN Melejit Usai Merger

Jakarta – Merger tiga bank syariah BUMN akan membawa entitas menjadi bank yang besar. Meski menjadi bank yang besar, itu bukan jaminan kinerjanya mengalami perbaikan.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah mengatakan untuk memacu perbankan syariah dibutuhkan ekosistem syariah yang baik.

“Untuk memacu perbankan syariah tidak cukup adanya satu bank besar. Tetapi juga harus diikuti dengan pencitraan ekosistem ekonomi syariah yang lebih baik, perluasan dan peningkatan bisnis halal misalnya,” katanya kepada detikcom, Minggu (18/10/2020).

Dia menekankan upaya meningkatkan minat masyarakat terhadap layanan bank syariah tidak hanya cukup dengan menciptakan satu bank besar.

“Tetapi akan lebih efektif melalui peningkatan ekosistem bisnis halal,” sambungnya.

Pengamat BUMN Toto Pranoto menilai potensi ekonomi syariah sangat besar. Namun, belum dimanfaatkan secara optimal.

Dia menerangkan, potensi zakat di data Baznas tahun 2017 disebutkan ada sekitar Rp 217 triliun per tahun. Namun, yang dimanfaatkan baru Rp 6 triliun hingga Rp 7 triliun per tahun. Di wakaf ada potensi wakaf tunai Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun. Itu di luar wakaf dalam bentuk tanah dan properti.

“Secara umum kalau market share total bank syariah baru sekitar 6% dari bank kredit secara nasional. Maka potensi itu mestinya besar sekali. Jadi proses literasi perlu diperkuat sehingga publik makin familiar dengan produk syariah,” jelasnya.

Sebagai informasi, adapun bank syariah BUMN yang bakal dimerger yakni PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM). Merger ini ditargetkan terealisasi pada Februari 2021.

Bank Syariah Merger Bikin Pinjam Uang Jadi Murah?

Toto Pranoto menilai dengan merger bank syariah BUMN menjadi BUKU IV. Dengan begitu, bank syariah BUMN diharapkan memiliki jaringan yang luas, baik di dalam maupun luar negeri.

Potensi menyerap risiko juga jauh lebih besar, sehingga ekspansi kredit juga jauh lebih besar.

“Dan proyeksi masa depan industri perbankan yang beralih ke arah layanan digital banking juga bisa dilaksanakan oleh bank syariah hasil merger ini,” katanya.

Dia mengatakan, ditunjuknya BRI Syariah menjadi bank survivor membuat bank hasil merger otomatis bersifat terbuka, sehingga bisa langsung dipantau publik.

Lanjutnya, dengan modal dan jaringan yang lebih besar membuat bank hasil merger lebih efisien, sehingga bisa mengurangi beban kredit.

“BRIS menjadi surviving entity (otomatis terjadi backdoor listing) sehingga kinerja mereka bisa langsung dipantau publik/investor. Tentu dengan kapasitas modal lebih besar dan segmentasi pasar yang lebih kuat diharapkan cost of fund mereka menjadi lebih efisien, sehingga beban kredit ke nasabah bisa diturunkan,” terangnya.

Sementara, Piter mengatakan, adanya merger diharapkan tercipta satu bank syariah yang besar.

“Merger memang langkah paling cepat untuk meningkatkan kapasitas bank dari banyak hal, permodalan, jangkauan pasar, dan juga daya saing,” katanya.

Namun, dia bilang, itu bukan jaminan untuk meningkatkan kinerja perbankan syariah. Menurutnya, kinerja bank syariah harus diikuti oleh ekosistem syariah yang lebih baik, misal bisnis halal.

Piter menambahkan, jangkauan pasar tidak berdampak pada imbal hasil. Sebagai informasi, di bank syariah sendiri tidak dikenal konsep bunga karena dianggap riba.

“Jangkauan pasar tidak akan berdampak kepada imbal hasil. Imbal hasil lebih dipengaruhi oleh kebijakan moneter atau kondisi likuiditas di perekonomian,” terangnya.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *