Kinerja Sektor Unggulan Dioptimalkan, Geliat Pemulihan Ekonomi Dirasakan

YOGYA (KR) – Pertumbuhan industri di DIY ternyata cukup pesat sehingga terbukti masih berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di DIY pada 2020 ini. Sektor yang berperan besar terhadap pertumbuhan ekonomi di DIY adalah industri, pertanian, konstruksi serta informasi dan komunikasi, tetapi perlu digali dan dikembangkan lebih lanjut sektor lainnya yang cukup potensial namun belum optimal.

Industri pariwisata masih tetap menjadi ‘trigger’ dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai lokomotif pelaku usahanya guna pendorong pertumbuhan ekonomi di DIY. Disamping itu, perlunya adanya redesain struktur perekonomian di DIY khususnya sektor industri.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Heru Margono menyampaikan geliat ekonomi di DIY sudah muncul yang dapat dilihat pada capaian pertumbuhan ekonomi triwulan III 2020, tetapi masih mengalami kontraksi sebesar 2,84 persen (yoy). Artinya pada perjalanannya geliat pertumbuhan ekonomi sudah tampak di DIY tetapi belum mampu mengangkat sama seperti capaian triwulan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Patut kita syukuri perekonomian DIY triwulan III 2020 masih tumbuh, tetapi kita masih harus bersabar karena masih belum bisa mengangkat seperti triwulan tahun lalu,” ujar Heru dalam Diskusi Terbatas kerjasama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY, Bank Indonesia (BI) DIY, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY dan SKH Kedaulatan Rakyat bertajuk ‘Geliat Roda Ekonomi DIY Menuju Pemulihan Ekonomi’ di Gedung Heritage BI DIY Jl. P. Senopati Yogyakarta, Kamis (12/11).

Diskusi yang dimoderatori Wakil Pemimpin Redaksi (Wapimred) SKH Kedaulatan Rakyat Ronny Sugiantoro ini juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu Kepala Perwakilan BI DIY Hilman Tisnawan, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Beny Suharsono, Wakil Ketua ISEI Cabang DIY Amirullah Setya Hardi dan Ketua Dewan Penasehat Kadin DIY Robby Kusumaharta. Diskusi terbatas ini diikuti beberapa peserta yaitu Gonang Djuliastono dari Kadin DIY, Y. Sri Susilo dan Rudy Badrudin dari ISEI Cabang Yogyakarta, Ahmad Ma’ruf dari Tim Ahli Parampara Praja serta Deputi Kepala Perwakilan BI DIY Miyono.

“Perubahan struktur ekonomi sangat berpengaruh terhadap devisa negara, sehingga berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar. Selain itu, Indonesia mengalami fase deindustrialisasi lebih cepat dari seharusnya,” kata Kepala Perwakilan BI DIY Hilman Tisnawan.

Hilman mengatakan struktur ekonomi DIY saat ini share industri cenderung berkurang, digantikan akomodasi makan minum dan jasa dalam 10 tahun terakhir. Sehingga perlu mendorong sektor bernilai tambah tinggi, seperti industri kreatif memiliki potensi tinggi sebagai new source of growth di DIY. DIY memiliki potensi ekonomi kreatif yang unggul dalam bidang digital, diantaranya film, animasi dan video serta aplikasi dan game developer. Laju pertumbuhan dan distribusi PDRB untuk kedua subsektor tersebut lebih tinggi dibanding provinsi lainnya maupun Nasional untuk aplikasi dan game developer.

“Dari penelitian kami yaitu Growth Strategy DIY menghasilkan perlunya optimalisasi kinerja subsektor unggulan di DIY, yaitu industri tekstil dan produk turunan (TPT), mebel dan kerajinan kayu, serta jasa pariwisata, termasuk industri kreatif diantaranya animasi dan games yang diproyeksi dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru,” tandasnya.

Ketua Dewan Penasehat Kadin DIY Robby Kusumaharta mengungkapkan ekspor di Pulau Jawa termasuk DIY bergerak cepat walau belum seperti sebelum pandemi Covid-19. Eksportir DIY kembali bekerja karena buyer-buyer menempatkan pesanan kembali. Diuntungkan karena melalui online transaksi berlangsung dimana hampir sebagian besar pelaku utama ekspor sudah memiliki web. “Pesanan yang membludak, di berbagai produsen berhadapan sumber daya produksi dan pembiayaan. Oleh sebab itu perlu dibentuk tim ad-hoc yang membantu solusi agar demand yg sedang lewat ini dipenuhi,” imbuhnya. (*)

Sumber : KR jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *