Produk UMKM Mau Tembus Ekspor? Simak Tipsnya Nih

Jakarta – Banyak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ingin mengembangkan bisnis bahkan sampai tembus ekspor. Namun, tidak semua UMKM memahami bagaimana menjual produk tersebut ke luar negeri.

Dalam acara d’Mentor detikcom, CEO PT Diva Prima Cemerlang, Dewi Ekha Harlasyanti berbagi tips tentang bagaimana cara menembus pasar ekspor ini. Diva Prima Cemerlang sendiri merupakan produsen bulu mata palsu yang telah menembus pasar ekspor.

Dia mengatakan, dalam menembus pasar ekspor terpenting ialah melakukan riset pasar (market research). Tanpa riset pasar, pelaku usaha tidak akan tahu apa yang dibutuhkan oleh negara tujuan ekspor.

“Nomor satu yang wajib banget dilakukan itu market research dulu sebetulnya. Jadi kita harus tahu produk kita bisa dijual ke mana sih, ke negara mana. Tanpa market research kita nggak akan pernah tahu, kita nggak bisa ekspor itu asal kirim-kirim barang tapi negara itu tidak memerlukan produk kita,” katanya, Rabu (7/4/2021)

“Supaya kita nggak wasting time ketika kirim email, ketika approach buyer dan sebagainya,” tambahnya.

Setelah itu, kata dia, produk yang dijual harus disesuaikan dengan regulasi dan persyaratan, baik dalam maupun luar negeri. Dia bilang, pelaku usaha harus memahami persyaratan yang harus dipenuhi.

“Kita harus tahu dulu nih produk kita apa, produk kita ini di dalam negeri ada persyaratan perizinan apa yang dipenuhi, di samping itu kita harus mempelajari juga di negara tujuan itu ada persyaratan-persyaratan atau sertifikat-sertifikat apa yang yang dipenuhi,” katanya.

Setelah itu, kata dia, baru menyesuaikan kemasan dan label pada produk yang dijual.

Lebih lanjut, produk bulu mata Dewi sendiri telah sampai ke sejumlah negara seperti Prancis, Palestina, India, Amerika Serikat, dan lain-lain. Dari negara-negara tersebut, Dewi bilang yang sulit ditembus ada Eropa dan Amerika.

“Kita tahu di sana ada yang namanya FDA Food and Drug Administration, setiap produk masuk ke sana apalagi bulu mata masuk kategori kosmetik. Makanan dan kosmetik itu harus ada yang namanya FDA register,” katanya.

Sumber : Detik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *